Info Poto

Teras Ziswaf bekerjasama dengan Majlis Taklim Nahwa Al Jannah akan melakukan kajian rutin di Mushollah Metmall Cileungsi, dengan mengambil topik kajian Sirah Nabawiyyah dan kajian seputar fiqih. Hal tersebut disampaikan saat shilaturahmi Majlis Taklim Nahwa Al Jannah ke Kantor Ziswaf. Menurut Agus, ketua DKM Mushollah Metmall yang terletak di Lantai 3 Metland Mall, Agus menyampaikan kegembiraan atas kerjasama yang dilakukan oleh Teras Ziswaf dengan Majlis Taklim Nahwa Al Jannah untuk mengadakan kajian rutin di Mushollah Mall. “Memang sementara ini, kegiatan Mushollah di Mall belum penuh, Bagus jika ada majlis taklim lainya mengikuti kerjasama ini…” demikian menurutnya.

 

Hal senada juga disampaikan Direktur Teras Ziswaf, Faruq HM, “Mushollah atau masjid harus kita yang memakmurkan, dari masjid kita bisa banyak melakukan kebaikan lainya. Sebagaimana dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam ketika hijrah, lokasi yang pertama di cari adalah tempat sholat, yakni masjid. tegas Faruq.

 

Kajian rutin yang akan dilaksanakan nanti tidak bersifat tertutup bagi orang lain, meski di inisiasi oleh Majls Taklim Nahwa Al Jannah, mereka akan mengundang Ibu-ibu untuk mengikuti kajian rutin ini.

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan.

Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak terkikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu.

Namun, yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92). (M-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *